- HOME
- PROFIL
- PPID
- BERITA
- KESISWAAN
- GALERI
- INFORMASI
- INTERAKSI
- E-BOOK
×

Jakarta — SMP Negeri 115 Jakarta kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun ekosistem pendidikan yang holistik dan kolaboratif. Pada Kamis, 4 Juni 2026, sekolah yang akrab disapa Smabel ini sukses menyelenggarakan Seminar Parenting bertema "Keterlibatan Orang Tua dalam Mendukung Keberhasilan Belajar Anak" bagi orang tua/wali murid kelas 7 dan kelas 8.
Jakarta — SMP
Negeri 115 Jakarta kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun
ekosistem pendidikan yang holistik dan kolaboratif. Pada Kamis, 4 Juni 2026,
sekolah yang akrab disapa Smabel ini sukses menyelenggarakan Seminar
Parenting bertema "Keterlibatan Orang Tua dalam Mendukung
Keberhasilan Belajar Anak" bagi orang tua/wali murid kelas 7 dan kelas
8.
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 10.00 WIB di lingkungan SMP Negeri 115 Jakarta ini dihadiri oleh ratusan orang tua/wali murid dari dua jenjang tersebut. Seminar ini merupakan bagian dari program penguatan kemitraan antara sekolah dan keluarga yang digagas Smabel sebagai wujud nyata bahwa pendidikan yang berhasil membutuhkan sinergi yang kuat antara satuan pendidikan dan lingkungan rumah.
Narasumber Kompeten dari Dunia Psikologi
Seminar ini menghadirkan dua narasumber berkompeten. Yulia
Vistaria, S.Pd., Kepala SMP Negeri 115 Jakarta, membuka dan memandu
jalannya kegiatan, sekaligus menyampaikan visi sekolah dalam membangun
kolaborasi bermakna bersama orang tua. Adapun narasumber utama adalah Raden
Mutiara Puspa Wijaya, M.Psi., Psikolog., seorang psikolog klinis
berpengalaman.
Raden Mutiara Puspa Wijaya adalah lulusan S2 Psikologi Klinis Universitas Tarumanagara yang saat ini aktif sebagai Associate Psikolog Klinis Rumah Konseling, Psikolog Klinis Klinik MsSchool & Wellbeing, Psikolog Tim Nasional Indonesia di bawah Kemenpora, sekaligus Dosen Fakultas Psikologi Universitas Paramadina. Rekam jejaknya yang luas di bidang psikologi pendidikan dan klinis menjadikannya sosok yang tepat untuk berbicara tentang dinamika tumbuh kembang anak dan remaja di era modern.
Anak Kita Hidup di Dunia yang Berbeda
Seminar dibuka dengan sebuah pengingat yang menohok: "Anak
kita hidup di dunia yang tidak pernah kita alami saat seusia mereka."
Raden Mutiara memaparkan betapa berbedanya tantangan yang dihadapi generasi
digital saat ini dibandingkan generasi orang tua mereka.
Jika dulu gangguan belajar relatif sedikit karena keterbatasan
informasi, kini anak-anak dihadapkan pada banjir distraksi digital — mulai dari
TikTok, Instagram, YouTube, game online, Discord, hingga Netflix — yang
tersedia selama 24 jam penuh. "Masalahnya bukan anak kekurangan informasi.
Masalahnya adalah terlalu banyak distraksi," tegas Raden Mutiara di
hadapan para orang tua.
Dalam paparannya, psikolog yang dikenal aktif di media sosial
dengan akun Instagram @puspa_wijaya ini juga mengulas fenomena idola remaja di
era digital. Dari gamers, Youtuber, selebgram, artis K-Pop, hingga pemain bola
— semuanya bisa menjadi figur panutan bagi anak, yang kerap mempengaruhi pola
pikir, gaya berpakaian, hingga pilihan hidup mereka.
Tantangan Kurikulum Merdeka: Kebebasan yang Butuh Tanggung Jawab
Narasumber juga mengulas tantangan yang muncul seiring penerapan
Kurikulum Merdeka. Kurikulum ini memberi ruang lebih besar kepada siswa untuk
menjadi pelajar yang aktif dan mandiri. "Anak hari ini dituntut untuk
lebih mandiri, lebih mampu mengatur dirinya sendiri," ujar Raden Mutiara.
Jika dulu motivasi belajar sering bersumber dari ketakutan — takut
remedial, takut dimarahi guru, atau takut tidak naik kelas — maka hari ini
tantangannya berbeda. Anak perlu belajar karena ia memahami pentingnya
belajar. Dan di sinilah peran orang tua menjadi sangat krusial.
Raden Mutiara menyoroti keluhan yang paling sering diungkapkan
oleh orang tua: "Kalau tidak diingatkan, tidak belajar." "Kalau
tidak disuruh, tidak bergerak." "Kalau tidak dipantau, tugas tidak
selesai." Menurutnya, masalah utama bukan soal kemampuan anak, melainkan
soal tanggung jawab.
Berhenti Jadi Pengingat, Mulai Jadi Pelatih
Salah satu pesan terkuat yang disampaikan Raden Mutiara adalah
ajakan kepada orang tua untuk mengubah peran: dari sekadar pengingat menjadi
pelatih. "Yang dibutuhkan anak adalah pendampingan, bukan pengawasan
berlebihan," tegasnya.
Orang tua didorong untuk mengajarkan anak membuat target belajar
sendiri, menyusun jadwal, dan melakukan evaluasi mandiri. Anak juga perlu
dibiarkan mengalami konsekuensi yang wajar atas pilihan-pilihannya, karena
tanggung jawab sejati tumbuh dari pengalaman — bukan dari perintah.
Raden Mutiara pun menutup paparannya dengan sebuah pertanyaan
reflektif yang mengundang hening: "Jika saya tidak mengingatkan anak
selama seminggu, apakah ia tetap bertanggung jawab terhadap belajarnya?"
Jawaban atas pertanyaan itulah yang menggambarkan seberapa jauh kesiapan anak
untuk menghadapi masa depannya.
Tujuan akhir pendidikan, menurut narasumber, adalah bukan anak
yang selalu disuruh, tetapi anak yang mampu berkata dengan penuh kesadaran: "Ini
tugas saya. Dan saya akan menyelesaikannya."
Respons Positif dan Harapan ke Depan
Seminar berlangsung penuh antusias. Para orang tua tampak sangat
terlibat — mengajukan pertanyaan, berbagi pengalaman, dan merefleksikan pola
pengasuhan yang selama ini mereka jalankan. Sesi tanya jawab yang berlangsung
hangat mencerminkan betapa tingginya kepedulian orang tua peserta didik Smabel
terhadap tumbuh kembang anak-anak mereka.
Kepala SMP Negeri 115 Jakarta, Yulia Vistaria, S.Pd.,
menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program jangka panjang
sekolah dalam membangun kemitraan yang bermakna dengan orang tua.
"Pendidikan terbaik dimulai dari rumah. Sekolah dan orang tua harus
berjalan beriringan, saling menguatkan, demi masa depan anak-anak kita yang
lebih cerah," ungkap Yulia Vistaria penuh semangat.
Dengan terselenggaranya Seminar Parenting ini, SMP Negeri 115
Jakarta sekali lagi membuktikan bahwa kualitas pendidikan di Smabel tidak hanya
dibangun di dalam kelas, tetapi juga dirawat bersama di lingkungan keluarga.
Karena sejatinya, ibu adalah sekolah pertama dan utama, dan ayah adalah kepala
sekolahnya.